The refers to the Friday sermons delivered in the Patani region (Southern Thailand), specifically written in the Jawi script (an adaptation of Arabic letters for the Malay language) . These sermons are a cornerstone of religious and cultural identity for the Patani Malay community, bridging traditional Islamic scholarship with local linguistic heritage. 1. Structural Components
Di dalam bagian penjelasan (khutbah kedua atau uraian khutbah pertama), sering ditemukan kosakata serapan Arab-Melayu lama seperti beroleh (mendapat), syahdan (selanjutnya), keti (ratus ribu), atau mengerjakan taat . khutbah jumat jawi patani
Penggunaan bahasa Jawi Patani dalam khutbah Jumat memiliki beberapa fungsi vital bagi masyarakat Muslim minoritas di Thailand Selatan: 1. Efektivitas Penyampaian Dakwah (Fahm Al-Khitab) The refers to the Friday sermons delivered in
Sama seperti khutbah Jumat pada umumnya dalam mazhab Syafi'i (mazhab mayoritas di Nusantara dan Asia Tenggara), khutbah Jawi Patani harus memenuhi lima rukun utama secara tertib: Rukun Khutbah Implementasi dalam Teks Jawi Patani Lahir di Bangkok dari keluarga bangsawan Patani, Mahmud
Salah satu tokoh pionir dalam hal ini adalah ulama besar Mahmud Zuhdi al-Fathani (1876-1956). Lahir di Bangkok dari keluarga bangsawan Patani, Mahmud Zuhdi disebut-sebut sebagai cendekiawan Melayu pertama yang menulis secara ekstensif tentang konvensi khutbah dalam bahasa Melayu dan menyertakan khutbah-khutbah model dalam bahasa tersebut dalam karya-karyanya. Karyanya yang paling terkenal antara lain al-Farida al-saniyya dan Thimār al-khuṭab , yang berfungsi ganda sebagai manual khutbah sekaligus kumpulan khutbah. Secara mengejutkan, kitab-kitab ini tidak hanya dimaksudkan sebagai kode praktik ritual bagi kaum Muslimin, tetapi juga sebagai kendaraan untuk mempertahankan keseluruhan bangunan kepatuhan mazhab (terutama mazhab Syafi'i) dan praktik ritual tradisional terhadap tantangan yang muncul dari gerakan reformis lokal pada masa itu. Dengan kata lain, khutbah Jumat Jawi menjadi benteng teologi tradisional.